Beranda Warta Innalillahi wa inna ilaihi raji’un KH. Dr. Alamudin Dimyati Rois Berpulang: Ulama...

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un KH. Dr. Alamudin Dimyati Rois Berpulang: Ulama Pejuang dari Pesantren hingga Parlemen

656
0

Hari Selasa, 6 Mei 2025, menjadi hari duka mendalam bagi umat Islam, khususnya bagi keluarga besar Nahdlatul Ulama dan masyarakat pesantren. KH. Dr. Alamudin Dimyati Rois, seorang ulama kharismatik sekaligus wakil rakyat yang istiqamah, telah berpulang ke rahmatullah. Indonesia kehilangan sosok penting yang mengabdikan hidupnya bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.

Putra dari ulama besar KH. Dimyati Rois Kaliwungu ini bukan hanya mewarisi keilmuan dan spiritualitas pesantren, tetapi juga melanjutkan estafet perjuangan untuk membawa nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin ke ranah kebijakan publik. Sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Al Fadllu Wal Fadlilah Kaliwungu, almarhum dikenal sebagai pendidik yang lembut namun tegas, yang membimbing ribuan santri dengan ilmu, kasih sayang, dan keteladanan.

Namun pengabdiannya tak berhenti di pesantren. Kiai Alamudin, begitu beliau akrab disapa, menembus batas-batas tradisional peran ulama dengan duduk sebagai Anggota DPR RI Fraksi PKB selama tiga periode. Di Komisi VIII yang membidangi agama, sosial, dan kebencanaan, beliau memperjuangkan aspirasi umat dengan konsisten dan bermartabat. Suaranya di parlemen adalah gema dari langgar-langgar kecil di pelosok desa, dari suara rakyat kecil, dari keresahan para santri dan kiai.

Kiai Alamudin adalah gambaran nyata dari tipologi santri negarawan. Ia bukan hanya hadir dalam forum-forum ilmiah dan majelis taklim, tetapi juga aktif dalam menyusun regulasi yang berpihak pada nilai-nilai keislaman, keadilan sosial, dan perlindungan umat. Di tengah dinamika politik yang kerap keras, beliau hadir sebagai penyejuk dengan akhlak karimah dan ketenangan khas pesantren.

Kepergian KH. Dr. Alamudin Dimyati Rois adalah kehilangan besar. Tidak hanya bagi keluarga, para santri, dan konstituennya, tetapi juga bagi bangsa Indonesia yang membutuhkan sosok seperti beliau — jembatan antara pesantren dan parlemen, antara moralitas dan kekuasaan, antara langit dan bumi.

Semoga Allah SWT menerima semua amal ibadahnya, menempatkannya di sisi para kekasih-Nya, dan memberikan ketabahan kepada keluarga serta seluruh umat yang kehilangan. Warisan perjuangannya akan terus hidup dalam jiwa para santri, dalam nadi pesantren, dan dalam sejarah perjalanan kebangsaan kita.

Selamat jalan, Kiai. Suara jenengan di parlemen mungkin telah terdiam, tapi pesan dan perjuangan jenengan akan terus bergema.

Views: 25

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini