Beranda Opini Mengasah Daya Berpikir Model Santri Pasaran Ramadhan di Kediaman Habib Luthfi Pekalongan

Mengasah Daya Berpikir Model Santri Pasaran Ramadhan di Kediaman Habib Luthfi Pekalongan

120
0

Oleh: Prof. Dr. H. Achmad Tubagus Surur, M.Ag. (Guru Besar UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan)

Setiap Bulan Ramadhan, kediaman Habib Luthfi akan dipenuhi santri-santri yang datang dari berbagai daerah. Mereka mengaji langsung dengan Rois ‘Am JATMA Aswaja, yang memang memberikan tempat bagi para santri senior yang ada di Nusantara ini. Pengajian dilaksanakan mulai habis sholat tarawih dan disambung setelah sholat subuh.

Berbeda dengan pengajian-pengajian “pasaran” (untuk istilah pengajian yang dilaksanakan di pondok pesantren atau majlis ta’lim), yang biasanya mengejar khatam satu kitab selama satu Bulan Ramadhan. Pengajian pasaran yang dipimpin langsung oleh Habib Luthfi dengan pegangan pada kitab Fathul Bari karangan Ibnu Hajar al-Asyqolani ini lebih bersifat diskusi.

Semua santri diberi kesempatan untuk membaca satu tema yang sudah disepakati tetapi di analisis dari berbagai sudut pandang out of the kitab. Kemudian dibahas sampai mereka paham tema yang dibacanya. Santri dalam menanggapi boleh merujuk pada kitab-kitab lain yang masih setema. Jadi, para santri benar-benar diberi keleluasan dalam mengelaborasi keilmuannya. Bebas bertanya, bebas memberikan komentar. Namun tetap di bawah bimbingan Maulana Habib Luthfi.

Sesekali dalam pertemuan, “abah” (panggilan akrab para santri yang menjadi peserta pengajian) memberikan tausiyahnya di awal kegiatan pengajian. Beliau mengulas kembali kajian tema yang kemarin perlu ada tambahan untuk pencerahan para santri. Hal yang menjadi daya tarik para santri karena menurut mereka kajiannya punya nilai beda.

Beda dengan Ketika mereka beradu ketangkasan keilmuan di lapangan Bahtsul Masa’il. Kajian yang di Noyontaan ini, selalu dikait-hubungkan dengan kecintaan kepada Allah – kecintaan kepada Rasulullah – sampai menuju kecintaan kepada ulama’-ulama’nya yang kemudian menetap menjadi kecintaan kepada bangsa dan negaranya.

Yang menjadi daya tarik para santri pada pengajian pasaran Bulan Ramadhan adalah diskusi dengan pendekatan sejarah. Pendekatan sejarah yang ditunggu-tunggu para santri ini adalah ulasan dari Habib Luthfi. Para santri tertantang untuk ikut menghitung perbedaan tahun hijriyah dan tahun masehi, yang sebenarnya memiliki dampak yang luar biasa bagi perkembangan ilmu sejarah itu sendiri. Demikian menurut penuturan dari salah satu peserta yang kemudian menjadi khodam habib.

Sejarah kerajaan kerajaan di Nusantara erat hubungannya dengan kedatangan Islam. Ini adalah sub pokok bahasan yang sangat menarik dicermati oleh para santri, karena benar-benar membuka wawasan cara mengenal berbagai macam ilmu pengetahuan yang muncul dari adanya perbedaan budaya, sosial, hukum, adat istiadat, bahasa, dan lain sebagainya.

Salah satu contohnya adalah ketika Habib Luthfi membuka wawasan seni musik yang muncul di Bumi Nusantara ini. Jauh sebelum masuknya Islam di Bumi Nusantara ini, masyarakat nusantara telah menemukan bijih besi dan dibuat untuk berbagai macam alat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, termasuk adalah alat hiburan yaitu berupa gamelan yang terbuat dari besi.

Hal ini menunjukkan bahwa peradaban masyarakat nusantara ini telah jauh melampaui masyarakat dunia di luar nusantara. Katakan negara Arab, baru mengenal jenis alat musik rebana atau tambur dari kulit binatang, yang tidak memiliki kerumitan dalam pembuatan alat musiknya. Di Cina ada alat musik yang terbuat dari bambu, yang ini juga sangat mudah pembuatannya. Bedakan dengan gamelan yang terbuat dari besi. Untuk dapat membuat besinya aja butuh keahlian tersendiri, karena besi baru ditemukan dalam bentuk seperti pasir yang butuh keahlian dalam memasak menjadikan besi lempengan.

Analisis yang disampaikan Habib Luthfi ini memiliki nilai yang sangat luar biasa bagi memecahkan problematika berpikir para santri. Budaya juga menjadi alat untuk melihat dan menemukan jawaban atas persoalan yang muncul, seperti contohnya; keinginan bangsa Indonesia untuk terlepas dari penjajahan Belanda yang lalim, para ulama mengharamkan berpakaian ala Belanda.

Editor: Anwar

Views: 22

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini