Di suatu masa di Mesir, hiduplah seorang pedagang kurma terkenal bernama Athiyah bin Khalaf. Ia dulu dikenal sebagai saudagar kaya yang dermawan. Namun, kehidupan manusia selalu berputar. Kekayaannya perlahan habis hingga ia tak lagi memiliki apa pun kecuali sehelai baju lusuh yang menutupi tubuhnya.
Hari itu, tepat pada 10 Muharram, hari Asyura yang mulia. Athiyah berangkat menunaikan shalat Subuh berjamaah di Masjid Amr bin Ash. Masjid itu biasanya hanya diperuntukkan bagi jamaah laki-laki, tetapi pada hari Asyura, para perempuan diperbolehkan masuk untuk berdoa dan memohon ampunan bersama-sama.
Usai shalat, Athiyah duduk menengadahkan tangan, berdoa dengan hati yang lemah, memohon rezeki dan ampunan dari Allah. Tiba-tiba, seorang wanita paruh baya berjalan perlahan mendekatinya. Di samping wanita itu, berdiri beberapa anak kecil dengan wajah pucat dan tatapan kosong menahan lapar.
Dengan suara bergetar menahan tangis, wanita itu berkata,
“Wahai tuan, demi Allah, aku mohon bantu aku hari ini. Aku tidak memiliki apa pun untuk memberi makan anak-anakku. Suami kami telah tiada dan dia tidak meninggalkan apa pun untuk kami. Aku seorang syarifah, aku tak biasa meminta-minta seperti ini. Hari ini pun aku keluar rumah hanya karena terpaksa demi anak-anakku yang kelaparan.”
Athiyah menatap wanita itu dalam diam. Hatinya bergetar hebat. Ia menunduk, menahan air mata. Dalam hatinya ia berkata, “Ya Allah… aku hanya memiliki baju yang sedang kupakai ini. Jika aku berikan, aku akan telanjang. Tapi… apa yang akan aku katakan kepada Rasulullah nanti jika aku menolak permintaan anak yatim dan seorang janda miskin di hadapanku?”
Ia menarik napas dalam-dalam, menatap wanita itu dengan lembut, lalu berkata pelan,
“Ikutlah aku pulang. Aku akan memberikan sesuatu untukmu.”
Wanita itu mengikutinya hingga tiba di depan rumah kecil Athiyah. Ia meminta wanita itu menunggu di luar, lalu masuk ke dalam rumah. Dengan perlahan, ia melepas bajunya, menyisakan sarung tua yang kusam. Ia melipat bajunya rapi, dan dari balik pintu, ia menyerahkan pakaian satu-satunya itu kepada sang wanita.
Sang wanita menerima baju itu sambil menahan isak tangis. Ia menatap Athiyah dengan penuh haru dan berkata,
“Semoga Allah memberimu pakaian surga yang indah dan semoga engkau tak pernah membutuhkan bantuan siapa pun sepanjang hidupmu.”
Athiyah terdiam. Hatinya dipenuhi rasa hangat oleh doa tulus itu. Setelah wanita itu pulang bersama anak-anaknya, Athiyah masuk ke rumahnya, menutup pintu, dan duduk bersimpuh di atas lantai tanah. Ia berdzikir hingga larut malam, sebelum akhirnya tertidur karena kelelahan.
Dalam tidurnya, Athiyah bermimpi. Ia melihat seorang bidadari sangat cantik, kecantikannya tak pernah terbayangkan oleh mata manusia. Di tangan bidadari itu terdapat sebuah apel yang aromanya wangi memenuhi langit dan bumi. Bidadari itu membelah apel tersebut dan dari dalamnya keluarlah pakaian surga yang berkilauan indah, tak bisa dibandingkan dengan apa pun di dunia.
Dengan senyum lembut, bidadari itu memakaikan pakaian surga itu kepada Athiyah dan duduk di pangkuannya. Athiyah menatap wajah bidadari itu dan bertanya,
“Siapa engkau ini?”
Ia menjawab,
“Aku adalah Asyura, istrimu di surga.”
“Amalan apa yang membuatku memperoleh kemuliaan ini?” tanya Athiyah dengan suara gemetar.
Bidadari itu tersenyum dan menjawab,
“Karena baju yang kau sedekahkan kepada seorang janda miskin dan anak-anak yatim di hari Asyura kemarin. Itulah yang membuat Allah memuliakanmu.”
Athiyah terbangun dengan tubuh bergetar hebat. Harum mimpi itu masih terasa di rumah kecilnya. Dengan air mata bahagia, ia berwudhu, lalu menunaikan shalat dua rakaat penuh syukur. Usai shalat, ia menengadahkan tangannya dan berdoa dengan suara pelan yang lirih:
“Ya Allah, jika mimpiku ini benar, jika dia adalah istriku di surga, maka panggillah aku kepada-Mu sekarang juga untuk bertemu dengannya.”
Belum selesai kalimat itu terucap, ruh Athiyah bin Khalaf dicabut oleh Allah dengan tenang. Ia wafat dalam keadaan suci dan mulia, dipanggil menuju surga yang telah dijanjikan-Nya.
🌿 Pelajaran hidup dari kisah ini:
Tidak ada sedekah yang sia-sia. Bahkan ketika kita merasa tak memiliki apa pun lagi, memberi dengan hati yang tulus tetap akan menjadi sebab datangnya rahmat Allah. Berbahagialah orang-orang yang peduli pada anak yatim, karena di situlah pintu-pintu surga terbuka lebar.
Penulis: Syaikhul Alim
Views: 30








