Beranda Tokoh K.H. Khudhori Thobri: Warisan, Ilmu dan Keteladanan

K.H. Khudhori Thobri: Warisan, Ilmu dan Keteladanan

676
0
KH. Khudhori Thobri

Jejak awal sang Kiai: Belajar, Berdagang, Keluarga dan Berjuang

KH. Khudhori Thobri adalah seorang ulama kharismatik yang lahir di Simbang Kulon, Buaran, Pekalongan pada 3 Februari 1932. Beliau merupakan putra sulung dari pasangan Bapak Thobri bin Abdus Shomad dan Ibu Wasi’ah. Beliau dikenal sebagai sosok yang berwibawa, sederhana, dan memiliki dedikasi tinggi terhadap pendidikan. Kehidupannya dicurahkan untuk menyebarkan ilmu, khususnya ilmu agama. Pada masa kecilnya, beliau termasuk anak yang cerdas, mandiri dan memiliki latar belakang keluarga yang sederhana. Sehingga menjadikan beliau tumbuh dan dikenal memiliki kepribadian tekun, gigih, serta pekerja keras.

KH. Khudhori Thobri memulai pendidikannya di SRI (Sekolah Rakyat Indonesia) atau yang saat ini dikenal dengan SD/MI. Disaat beliau duduk dibangku SRI beliau tidak hanya tekun belajar melainkan juga membantu berjualan krupuk dan siang harinya sepulang sekolah beliau membantu ibunya berjualan daging dan sayur. Beliau tumbuh dengan semangat perjuangan yang tinggi untuk dapat terus belajar. Kemudian lulus SRI beliau melanjutkan di Pondok Pesantren Kaliwungu, Kendal selama 6,5 tahun. Disanalah beliau menjadi santri kesayangan gurunya, K.H. Ru’yat. Kecintaan beliau pada ilmu tidak hanya terwujud dalam pembelajaran, tetapi juga dalam kiprahnya di masyarakat.

Pernikahan pertama beliau dengan Hj. Nadloriyah dikaruniai delapan anak, yaitu tiga putri dan lima putra,  yaitu: Khoiriyah (almh), Azizah (almh), Latifah (almh), Makhfudz (alm), Dr. K.H. Muslih, M.Si yang menikah dengan Hj. Khamidah (dikaruniai empat anak, yaitu : M. Dzikrullah Faza, M. Edwin Qorina Fillah, Madina Janneta Khumaida, Mecca Sania Khumaida), K.H. Mahrus S.Pd.I, M.Pd.I yang menikah dengan Hj. Sri Khoiriyah (dikaruniai tiga anak yaitu : Mariyah Ulfa, Minkhatul Haq dan M. Alawi.), Ust. Khafidz menikah dengan Aini Sakinah (dikaruniai dua anak yaitu : M. Rikza Sabilun Naja dan M. Asyroful Alamin), Maftuhin menikah dengan Rustianah.

Setelah Ibu Nyai Hj. Nadloriyah meninggal pada tahun 1979, beliau menikah dengan Ibu Nyai Hj. Farkhati putri K.H. Fadlun Mufti yang dikaruniai tujuh anak, tiga putra dan empat putri, yaitu: H.M. Nurul Haq, Lc, M.Pd.I menikah dengan Nur Faidah (dikaruniai seorang putra yaitu, M. Irfan Fi Luthfillah), Faynusah, S.Pd.I menikah dengan Udin Zaenudin, S.Pd.I (dikaruniai dua orang anak yaitu, Ana Wardatun Nufus dan M. Arza El Muhajir), Ahmad Lukman Hakim, Lailatul Zulfa, S. Pd, Nur I’anah, S.Pd.I, Ahmad Fadlun,  Nur Rohmah (almrh).

Kesederhanaan yang Melahirkan Keberkahan

K.H Khudhori Thobri adalah seorang pengusaha besar yang sukses dan dermawan, namun memiliki pola hidup yang sangat sederhana. Kesederhanaan beliau nampak sekali dalam kehidupan sehari-hari. Beliau jarang memakai pakaian yang mencolok mata orang lain, enggan memakai pakaian yang mahal, serta tidak pernah makan sampai kenyang. Kedermawanan beliau sangat tinggi, dapat dilihat dari seringnya beliau membantu orang lain yang membutuhkan bantuan serta menyekolahkan anak-anak yatim dan yang kurang mampu. Beliau juga sering memberikan secara gratis peralatan belajar terutama pada awal-awal berdirinya Pondok Pesantren Nurul Huda. Selain dikenal sebagai seseorang yang dermawan dan sederhana, beliau  juga sosok yang sabar serta kewaro’iannya sangat besar, bahkan karena sikap kehati-hatiannya tinggi menjadikan beliau sampai-sampai membeli sejengkal tanah yang biasa beliau lewati.

Berawal dari kegiatan pengajian sederhana yang telah dimulai di ndalemnya (rumahnya) dan kurang lebih berjumlah tiga kelas, kemudian terus berkembang dan bahkan mulai ada santri yang menetap di ndalemnya. Oleh sebab itu, akhirnya beliau berinisiatif untuk mendirikan sebuah Pondok Pesantren yang kemudian diberi nama Pondok Pesantren Nurul Huda. Tak hanya mengajar di pondok, beliau juga mengajar di Madrasah dan Majlis Ta’lim, dan tetap istiqomah mengajar di rumahnya. Setelah Ibu Nyai Hj. Nadloriyah meninggal K.H. Khudlori Thobri lebih banyak meluangkan waktunya untuk belajar. Sekitar tahun 1985, tempat yang dahulu digunakan untuk bekerja dengan kurang lebih 200 mesin tenun telah berubah menjadi bangunan Pondok Pesantren Putra, yang sekarang diasuh oleh K.H. Mahrus Khudlori Dan Pondok Pesantren Putri diasuh oleh K.H. Muslih Khudlori.

Tokoh panutan beliau adalah K.H. Ru’yat yang merupakan guru beliau sendiri. Beliau suka berorganisasi, hal ini bisa dilihat dari pengalamannya yang pernah menjadi pengurus masjid, pengurus NU, pengurus madrasah dan BASMINDO (Badan Sosial Muslimin Indonesia). Beliau juga merupakan salah satu muassasah atau pendiri Yayasan Madrasah Salafiyah Simbang Kulon, kira-kira akhir tahun 1950 beliau mulai berkiprah di Yayasan Madrasah Salafiyah Simbang Kulon. Berkat hobinya membaca dan dedikasinya dalam mengajar, beliau menghasilkan beberapa kitab yang masih dipelajari hingga sekarang. Kitab-kitab ini dibuat untuk menyederhanakan ilmu agar lebih mudah dipahami oleh para santri. Beberapa kitab karya beliau antara lain: 1. Kitab Amsilatut Tashrif, kitab ini ditulis saat beliau masih nyantri dan digunakan untuk mempermudah santri-santrinya belajar ilmu shorof, 2. Kitab Qowa’idul I’lal, 3. Kitab Faroidh, dan 4. Kitab Tahaji. Kitab-kitab tersebut juga menjadi rujukan dibeberapa pondok pesantren, tidak hanya di Pekalongan tetapi juga di luar kota seperti Kendal, Semarang, dan Tegal.

Di mata keluarga, sosok Sang Kiai adalah orang yang sabar, sederhana, santun, dermawan, dan berdedikasi tinggi. Beliau curahkan seluruh hidupnya untuk pendidikan. Tidak hanya ilmu yang beliau berikan. Waktu, harta, jiwa dan raganya beliau curahkan demi pendidikan. Beliau sangat memperhatikan masalah pendidikan, khususnya pendidikan agama. Bahkan beliau mempunyai motto ”Berdirinya ilmu itu dengan belajar”. Kesederhanaan selalu beliau terapkan dalam kehidupan sehari-hari, sejak beliau menjadi santri hingga beliau menutup mata untuk terakhir kalinya diusia yang ke 67 tahun. Beliau berpesan kepada keluarga dan santri-santrinya untuk selalu belajar dan hidup sederhana. Putra-putri beliau yang kemudian melanjutkan perjuangan sang ayah dalam dunia pendidikan agama dengan memastikan warisan ilmunya terus berlanjut.

Kembali ke Haribaan Ilahi, Tinggal dalam Hati Kami

K.H. Khudhori Thobri merupakan seorang figur ulama yang sangat dikenang di desa Simbang Kulon. Walaupun beliau sudah tiada, namun karya-karyanya masih hidup sampai sekarang. Bahkan putra-putri beliau juga melanjutkan estafet perjuangan dalam dunia pendidikan khususnya pendidikan agama dengan mendirikan pesantren. Untuk mengenang jasa-jasa beliau, warga desa simbang kulon turut berpartisipasi dalam acara peringatan haul beliau setiap tahunnya sekaligus bersilaturrahmi dengan Ibu Nyai Hj. Farhati, istri K.H. Khudhori Thobri. Bahkan setiap jumat pagi, makam beliau selalu ramai oleh para santri untuk berziarah dan mengirim doa. Sesungguhnya sosok K.H. Khudlori Thobri mungkin melebihi apa yang ditulis dalam biografi ini. Karena beliau merupakan tokoh penting dan sangat berpengaruh di desa Simbang Kulon. Semasa hidupnya, senantiasa berorientasi memberikan banyak manfaat bagi warga sekitar dan para santri. Beliau wafat di RSUD Kraton setelah sholat subuh pada hari Rabu 8 Dzulhijjah 1420 H atau 15 Maret 2000 M. K.H. Khudlori Thobri dimakamkan di Pemakaman Mbah Jihan tepatnya di Desa Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.

Kontributor: Diva Ali Saidatul Rizqi

Editor: Mohammad Syaifuddin

Views: 175

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini