Beranda Opini Ketika Ibu Menjadi Guru Pertama: Refleksi Hari Guru Nasional 25 November

Ketika Ibu Menjadi Guru Pertama: Refleksi Hari Guru Nasional 25 November

318
0
sumber foto: pexels.com

Oleh: Ustadz H. Muhammad Akhi Falakhi (LBM PCNU Kab. Pekalongan)

Setiap 25 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Guru Nasional sebagai bentuk penghormatan kepada para pendidik yang berjuang mencerdaskan anak bangsa. Momentum ini menjadi sangat tepat untuk kembali merenungi bahwa ada seseorang yang menjadi pendidik pertama dalam perjalanan seorang manusia, dialah Ibu.

Sebelum seorang anak duduk di bangku TK, SD, atau pesantren, ia sudah bertahun-tahun belajar di dalam “kelas” yang bernama rumah. Dan guru pertama yang mengajarinya cara berbicara, cara bersikap, cara berdoa, bahkan cara mencintai ilmu, adalah sang ibu.

Dalam Islam, kedudukan seorang ibu begitu agung dan tidak tergantikan. Ada sebuah ungkapan penuh makna: “Al-ummu madrasatul uula” — Ibu adalah sekolah pertama. Dari tangan seorang ibu-lah pendidikan pertama seorang manusia dimulai. Ia adalah guru pertama, teladan pertama, bahkan cermin pertama tempat anak belajar tentang kehidupan, akhlak, iman, dan cinta. Ungkapan ini bukan hanya indah, melainkan juga sarat makna mendalam yang disokong oleh dalil-dalil syar’i serta pengalaman para ulama besar sepanjang sejarah.

Rumah yang Dimulai Dengan Pendidikan Seorang Ibu

                didasarkan pada sebuah hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra.

 اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ مَا مِنْ مَوْلِدٍ اِلَّا يُوْلَدُ عَلَى الْفِتْرَةِ فَاَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ اَوْ يُنَصِّرَانِهِ اَوْ يُمَجِّسَانِهِ

bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: tidak ada seorang manusia yang terlahir kecuali dia terlahir atas fitrah (suci). Maka kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi.

Fitrah itu suci, lurus, dan siap menerima nilai kebaikan. Pada fase inilah peran ibu sangat menentukan arah masa depan seorang anak. Dari buaian dan pelukan pertama yang dirasakan, hingga senyum pertama yang dilihat, semuanya membentuk memori emosi yang kuat pada diri anak. Para ilmuwan modern menyebutnya sebagai attachment—ikatan emosional yang menjadi dasar perkembangan psikologis anak.

                Imam Malik rahimahullah pernah berkata kepada seorang pemuda Quraisy yang sedang menuntut ilmu. “Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.” Dan adab yang pertama dilihat dan ditiru anak adalah adab ibunya: cara berbicara, cara marah, cara bersabar, cara bersyukur, bahkan cara menyelesaikan masalah. Anak bukan hanya mendengar nasihat, tetapi juga merekam perilaku. Karena itu, ibu sebenarnya sedang “mengajar” bahkan ketika ia tidak sedang berbicara.

Kelembutan Ibu: Pondasi Akhlak Anak

Rasulullah ﷺ menegaskan keutamaan sifat lembut:

 “Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu, melainkan akan menghiasinya. Dan tidaklah kekerasan ada pada sesuatu, melainkan akan mengotorinya” (HR. Muslim).

Kelembutan ibu dalam mengasuh anak bukan hanya bentuk cinta, tetapi juga pendidikan akhlak. Anak yang dibesarkan dengan sentuhan kasih sayang akan tumbuh lebih percaya diri, tidak keras hati, dan memiliki empati yang baik.

Sebaliknya, anak yang tumbuh dalam nada tinggi, bentakan, atau emosi yang meledak-ledak cenderung membawa pola itu hingga dewasa. Karena itu, Islam memuliakan ibu bukan hanya karena perjuangannya melahirkan, tetapi juga karena ia membentuk akhlak generasi yang akan datang.

Iman Anak Berawal dari Pangkuan Ibu

Pendidikan iman bukan dimulai di sekolah, bukan di majelis taklim, tetapi di pangkuan ibu. Saat ibu membacakan doa sebelum tidur, ketika ia mengulang nama Allah di hadapan anak, atau saat ia mengajarkan sujud dan ruku’ dalam permainan, sesungguhnya itu adalah pendidikan tauhid pertama bagi manusia.

Allah ta’ala berfirman dalam surat At-Tahrim ayat 6:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (Qs. At-Tahrim: 6)

Dan siapa yang paling banyak menghabiskan waktu bersama anak terutama di masa awal? Ibu.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan:

  ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ  

Artinya, “Tiga doa yang mustajab, tak diragukan lagi di dalam ketiganya, (salah satunya) yakni doa orang tua kepada anaknya,” (HR. Ahmad).

Sejarah Membuktikan: Ibu Melahirkan Generasi Hebat

Bukan rahasia bahwa ulama-ulama besar memiliki ibu yang luar biasa:

  • Imam Syafi’i tumbuh dalam kemiskinan, namun ibunya mendidiknya dengan kesungguhan dan kesabaran. Ia hafal Al-Qur’an pada usia tujuh tahun.
  • Imam Bukhari, penulis kitab hadits paling shahih, dibesarkan oleh seorang ibu yang ahli ibadah dan dikenal sebagai wanita yang doanya mustajab.
  • Sultan Muhammad Al-Fatih, penakluk Konstantinopel, sejak kecil dibimbing ibunya dengan Al-Qur’an, akhlak, dan visi kejayaan Islam.

Ini menunjukkan bahwa keberhasilan besar seseorang hampir selalu memiliki jejak tangan seorang ibu di baliknya.

Mengapa Disebut Madrasah Pertama?

Ibu disebut madrasah pertama karena ia memberikan:

  1. Pendidikan emosi pertama: cara mencintai, cara bersikap baik.
  2. Pendidikan moral pertama: kejujuran, kesabaran, sopan santun.
  3. Pendidikan spiritual pertama: doa, ibadah, dan teladan iman.
  4. Pendidikan karakter pertama: keberanian, empati, keteguhan.
  5. Pendidikan kehidupan pertama: cara menghadapi masalah, cara menghormati orang.

Semua ini membentuk fondasi yang menentukan siapa anak akan menjadi kelak.

Keutamaan Ibu dalam Islam: Dalil yang Sangat Jelas

Ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang siapa yang paling berhak mendapatkan perlakuan terbaik, jawabannya bukan ayah, guru, atau sahabat. Rasulullah ﷺ bersabda tiga kali:

“Ibumu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ini bukan hanya penghormatan, tetapi juga pengakuan bahwa pengaruh ibu terhadap kehidupan seorang anak sangat besar dan mendalam.

Refleksi Hari Guru Nasional 25 November

Maka dalam peringatan Hari Guru, penting untuk menegaskan bahwa:

1. Guru formal melanjutkan apa yang sudah ditanamkan ibu

Seorang guru di sekolah mengembangkan potensi yang sudah ditanam dan dipupuk oleh ibunya sejak awal. Guru mengajar, sementara ibu memulai. Guru menguatkan, sementara ibu menanamkan.

2. Menghormati guru berarti menghormati seluruh proses pendidikan

Ketika kita menghormati guru pada 25 November, sesungguhnya kita sedang menghormati seluruh rantai pendidikan—yang dimulai dari seorang ibu sebagai madrasah pertama.

3. Peringatan Hari Guru adalah momentum memuliakan ibu

Saat guru dikenang, kita seharusnya juga mengingat guru paling awal dalam hidup: ibu yang mengajarkan cinta, sabar, akhlak, dan iman tanpa pernah menuntut imbalan. Tanpa madrasah pertama ini, guru formal tidak akan mampu bekerja dengan maksimal.

4. Ibu dan guru saling melengkapi

Ibu membentuk karakter dasar. Guru mengembangkan kemampuan. Dua peran ini tidak boleh dipisahkan.

Semoga Allah memberi kekuatan, kesabaran, dan keberkahan kepada para ibu muslimah—madrasah-madrasah pertama yang mengajarkan cinta, iman, dan akhlak kepada generasi penerus umat.

Wallahu A’lamu bishhowab.

Views: 54

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini