Beranda Opini MELESTARIKAN BUDAYA KAJIAN KITAB KUNING PASCA PELANTIKAN PENGURUS PCNU 2024-2029

MELESTARIKAN BUDAYA KAJIAN KITAB KUNING PASCA PELANTIKAN PENGURUS PCNU 2024-2029

660
0
Tradisi Kajian Kitab Kuning

Oleh : Muhlisin (Wakil Ketua PCNU Kabupaten Pekalongan)

Hanya  dalam sepekan pasca pelantikan dan Muskercab I PCNU Kabupaten Pekalongan, 5 Oktober 2024,  pengurus PCNU Kabupaten Pekalongan langsung menunjukkan aksi nyata yang berdampak positif bagi peningkatan kompetensi para pengurus dan  tentu juga bermanfaat  bagi masyarakat.  Momentum pasca pelantikan adalah waktu yang tepat untuk menunjukkan komitmen dan membangun semangat kerja di antara para pengurus. Dengan aksi nyata secara cepat, Pengurus PCNU dapat menjaga momentum semangat ini agar terus konsisten, bukan hanya dalam jangka pendek, tetapi juga dalam program-program strategis  jangka panjang. Langkah nyata ini merupakan representasi dari semangat kerja kolektif yang terstruktur, sekaligus menegaskan bahwa pengurus PCNU tidak hanya berhenti pada tataran retorika atau formalitas, tetapi langsung menjalankan program-program yang direncanakan. Fenomena ini patut diapresiasi dan menjadi contoh bagi lembaga dan banom yang ada di lingkungan PCNU. Salah satu langkah cepat yang diambil oleh pengurus PCNU adalah kajian kitab kuning bagi jajaran Pengurus PCNU yang melibatkan pengurus MWCNU kecamatan se Kabupaten Pekalongan.  Kajian kitab klasik atau kitab kuning telah lama menjadi tradisi di kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Tradisi ini memberikan landasan intelektual dan spiritual yang mendalam bagi para pengurus NU dalam berbagai tingkatan.

Salah satu kitab yang menjadi fokus kajian adalah Kitab At-Tibyan fin Nahyi ‘An Muqatha’atil Arham wal Aqarib wal Ikhwan karya Syeikh KH.Hasyim Asy’ari. Kitab yang menjadi pedoman bagi para pengurus dalam menjalankan organisasi membahas secara mendalam tentang pentingnya menjaga hubungan kekeluargaan, persaudaraan, dan silaturahmi dalam Islam. Sebagai kajian pertama, Sabtu, 12 Oktober 2024, kegiatan ditempatkan pada pondok pesantren Bustanul Mansuriyah Rowolaku Kajen, asuhan KH. Muzakki, katib syuriyah PCNU. Bertindak sebagai Qori kitab adalah KH Muhtarom, salah satu Syuriyah. Pada pembukaan kajian ini  juga dihadiri oleh Rois Syuriyah, KH. Anwar Baihaqi beserta jajaran syuriyah dan Ketua Tanfidziyah, KH. Muslikh Khudlori, MSI beserta jajaran tanfidziyah. Selain itu juga diikuti oleh para pengurus Lembaga, banom dan Pengurus MWC NU se Kabupaten Pekalongan.  Dalam dinamika organisasi, kajian kitab ini dapat menjadi media untuk membangun tradisi yang menekankan pada pentingnya keilmuan dan keulamaan yang menjadi ikon NU, sekaligus dapat dijadikan ajang koordinasi dan harmonisasi program kerja.

Kitab At-Tibyan dan Komitmen berorganisasi

Secara garis besar, Kitab  yang selesai ditulis pada hari Senin, 20 Syawal 1360 H. tersebut berisi  4 risalah, yaitu: (1) Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyati Nahdlatil Ulama; (2) Risalah fi Ta’akkudi Al-Akhdz bi Madzahibil Aimmah al-Arba’ah; (3) Risalah Tusamma bi-Al-Mawa’idh; dan (4) Al-Arbain Haditsan Nabawiyyan Tata’allaqu bi Mabadi’ Jamiyyati Nahdlatil Ulama. Dengan menjadikan kajian Kitab sebagai tradisi baru, pengurus PCNU seolah-oleh berada di hadapan penulisnya, KH. Hasyim Asyari untuk meneladani tradisi kealiman dan kesalihannya sehingga dapat memperkuat ikatan sosial dan emosional antar pengurus, yang akan berdampak positif terhadap kinerja organisasi secara keseluruhan.

Kitab At-Tibyan mengajarkan nilai-nilai yang sangat penting dalam Islam, seperti keutamaan menjaga hubungan kekeluargaan dan persaudaraan. Melalui kajian kitab ini, pengurus PCNU akan semakin paham bahwa memutuskan hubungan baik dengan sesama adalah tindakan yang sangat dilarang dalam Islam. Dengan pemahaman yang mendalam, para pengurus bisa menginternalisasi visi misi organisasi dalam kehidupan nyata, yang akan berdampak positif pada kinerja organisasi dan hubungan sosial dengan warga nahdliyin.  Selain itu, kajian ini dapat dijadikan sebagai media untuk memperkuat budaya kepemimpinan yang mengutamakan etika sosial. Pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu menjaga hubungan baik dengan bawahannya, rekan kerjanya, dan masyarakat luas. Pengurus PCNU, sebagai tokoh agama, tokoh masyarakat dan pemimpin organisasi, harus mampu menjadi teladan dalam menjaga silaturahmi dan persaudaraan, baik di internal organisasi maupun dengan masyarakat di luar NU.  

Salah satu tantangan besar dalam organisasi adalah menjaga soliditas di antara para pengurus. Konflik internal, perselisihan, dan perbedaan pendapat sering kali menjadi pemicu friksi. Melalui kajian Kitab At-Tibyan secara bulanan, pengurus PCNU diajak untuk mengingat pentingnya menjaga hubungan baik dan tidak memutuskan silaturahmi, meskipun ada perbedaan pandangan. Nilai-nilai yang terkandung dalam kitab ini dapat membantu pengurus lebih bijaksana dalam menghadapi konflik, sehingga tercipta suasana kerja yang harmonis dan kondusif. Apalagi di era modern yang berbasis teknologi informasi, tantangan di internal organisasi semakin kompleks. Begitu juga, tantangan eksternal berupa Konflik sosial, perpecahan keluarga, dan melemahnya ikatan persaudaraan sering kali terjadi di tengah masyarakat. Pengurus PCNU, sebagai representasi dari organisasi keagamaan, memiliki tanggung jawab untuk memberikan solusi yang tidak hanya pragmatis, tetapi juga berlandaskan nilai-nilai agama. Kajian Kitab At-Tibyan dapat memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana Islam mendorong terciptanya kedamaian sosial melalui harmoni hubungan antar individu.

Melalui kajian Kitab At-Tibyan, PCNU dapat membangun tradisi baru yang menekankan pada pentingnya penguatan keilmuan, keagamaan, silaturahmi, kerja sama, dan menjaga hubungan baik antar pengurus dan berbagai komponen yang menjadi stakeholders NU. Sebagai penguatan literasi di bidang kitab kuning, tradisi ini dapat diimplementasikan pada jenjang kepengurusan di bawahnya, seperti MWC NU dan Ranting NU. Kajian ini tidak hanya  bermanfaat bagi pengurus, tetapi juga dapat memberikan efek positif untuk membumikan budaya mengaji bagi nahdliyin. Dengan demikian, pengurus PCNU  akan menjadi teladan dalam menyebarkan nilai-nilai keilmuan dan kealiman bagi umat.  Tidak hanya selesai pada mengaji, forum tersebut juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk membicarakan problematika organisasi yang semakin hari semakin kompleks variasinya. Kajian kitab ini juga akan membekali diri dengan nilai-nilai moral dan etika yang kokoh, yang akan membantu para pengurus  mereka dalam menghadapi hambatan dan tantangan organisasi di masa depan. Tradisi ini, pada akhirnya, akan berkontribusi pada terciptanya kepemimpinan kolektif yang berlandaskan pada nilai-nilai spiritualitas dan etika sosial yang kuat.

Views: 164

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini