Beranda Opini Ngaji Kitab at-Tibyan: Meneguhkan Semangat Persaudaraan di Tengah Potensi Segregasi Sosial

Ngaji Kitab at-Tibyan: Meneguhkan Semangat Persaudaraan di Tengah Potensi Segregasi Sosial

559
0
Ngaji Kitab At-Tibyan PCNU Kabupaten Pekalongan

Di antara faktor penghambat kemajuan adalah konflik dan perpecahan. Suatu bangsa akan mengalami kesulitan dalam memajukan ekonomi, meningkatkan kualitas SDM, dan ilmu pengetahuan serta teknologi jika pada tataran sosial sering mengalami konflik dan perpecahan. Salah satu agenda besar Nabi Muhammad saw. pada awal-awal dakwahnya di Madinah adalah membangun persaudaraan antar komponen masyarakat baik sesama internal umat Islam maupun dengan kelompok lain. Di Madinah, Nabi berupaya meredam konflik, perpecahan bahkan peperangan yang sebelumnya sering terjadi di Makkah akibat fanatisme kekabilahan. Umat Islam di Madinah dengan modal persatuan dan persaudaraan akhirnya berhasil membangun masyarakat yang maju hidup berdampinga dengan ragam perbedaan suku, etnis bahkan agama.

Grand Syaikh al-Azhar, Prof Dr. Ahmad ath-Tayyib menegaskan tiga tahap prasyarat utama untuk membangun masyarakat yang solid yaitu (1) Ta’aruf, saling mengenal antara satu dengan yang lain; (2) Ta’ayusy, hidup saling berdampingan dengan penuh kebersamaan; dan (3) Ta’awun, bahu membahu berkolaborasi antar komponen meski dengan latar perbedaan yang beragam. Sebaliknya, masyarakat akan mengalami kemunduran dan menghadapi beragam permasalahan di berbagai bidang, jika (1) Tajahul, saling abai, bersikap individualistik; (2) Tanafur, saling menjauh, saling mencurigai dan kehilangan rasa saling percaya, dan (3) Tashadum, senang dengan konflik dan perpecahan, adu domba dan permusuhan. 

Ulama dan Kitab tentang Ukhuwwah

Nilai-nilai persaudaraan, rekonsiliasi, merukunkan dan mendamaikan antar komponen (ishlah) merupakan nilai-nilai luhur ajaran Nabi Muhammad saw. Oleh sebab itu para ulama pada setiap generasi dari berbagai negeri sebagai pewaris ajaran Rasulullah saw. memberikan perhatian besar terhadap tema persaudaraan (ukhuwwah) ini. Mereka berupaya agar semangat persatuan dan keberasamaan di kalangan umat terus solid di tengah gempuran gelombang perpecahan dan permusuhan pada berbegai levelnya.

Di antara kitab klasik dengan tema tersebut adalah kitab al-Birru wash-Shilah karya Imam ‘Abdullah Ibn al-Mubarak (118-181 H.), seorang ‘alim agung asal Merv-Khurasan yang meninggal di Baghdad. Kitab ini bisa dikatakan kitab generasi awal yang menghimpun secara khusus materi tentang persaudaran dan berbuat baik terhadap sesama.

Pada generasi berikutnya, Ibnul-Jauzi (w. 597 H)  seorang ‘alim yang lahir dan meninggal di Baghdad menulis kitab dengan judul yang sama yaitu al-Birru wash-Shilah. Dalam kitab ini Ibnul-Jauzi yang terkenal dengan sebutan Imam Ahli ‘Ashrihi fil-Wa’zhi (tokoh utama bidang mauizhah pada masanya) mengelaborasi lebih detil permasalahan seputar tema ini. Selain nasihat-nasihat penting dari Nabi Muhammad saw., kitab ini juga menyajikan argumentasi logis, kutipan serta kisah-kisah menarik generasi salaf mengenai tema penting ini.  

Contoh lain kitab dengan genre ukhuwwah pada abad pertengahan yang perlu disebut adalah kitab Asnal-Mathalib fi Shilatil Arhami wal Aqarib, karya Ibnu Hajar al-Haitami (909-974 H) ulama asal Mesir tokoh penting madzhab Syafi’i yang kemudian berdomisili dan meninggal di Makkah. Dalam mukaddimahnya, al-Haitami menjelaskan bahwa pendorong utama beliau menyusun kitab tersebut adalah maraknya fenomena permusuhan, konflik bahkan perpecahan antar keluarga dan kelompok di beberapa daerah di Makkah waktu itu.

Tidak ketinggalan, Hadhratusy-Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari (1287-1366 H.) pendiri Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU), juga menyusun kitab berjudul at-Tibyan fi an-Nahyi ‘an Muqatha’atil-Arham wal-Aqarib wal-Ikhwan yang berarti “Penjelasan tentang larangan memutus hubungan saudara, kerabat dan kawan”. Keunikan kitab ini dibanding kitab-kitab sebelumnya adalah catatan-catatan otentik K.H. Hasyim Asy’ari yang merekam dan menggambarkan situasi riil umat Islam Indonesia waktu itu. Kitab ini di susun tahun 1940 an dan merupakan respon terhadap fenomena konflik dan perpecahan, utamanya dalam masalah furu’ keagamaan di kalangan internal umat Islam yang marak terjadi pada waktu itu. Dalam satu bagian dalam kitab at-Tibyan, K.H. Hasyim Asy’ari menegaskan,

وقد رأيت بعيني أن الهجر الواقع بيننا في هذا الزمان لا يعود إلى صلاح دين الهاجر ولا المهجور ولا إلى دنياهما بل يعود الى فسادهما

“Saya melihat dengan kedua mata sendiri bahwa sikap saling membenci-menjauh yang terjadi di antara kita pada masa ini tidak membawa kebaikan, baik pada sisi agama orang yang membenci-menjauh atau orang yang dibenci-dijauhi, juga tidak membawa kebaikan pada sisi keduniaan mereka berdua, bahkan sebaliknya dapat menyebabkan kerusakan pada diri mereka berdua.”

Kitab-kitab tentang ukhuwwah yang ditulis dari generasi awal Islam, abad pertengahan hingga pada masa Hadratusy-Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari ini memberikan gambaran betapa para ulama setiap zaman sangat memberi perhatian terhadap tema persaudaraan, ukhuwah dan soliditas sosial yang merupakan fondasi dasar dan syarat penting bagi kemajuan umat dan bangsa dalam berbagai bidang.

PCNU Kabupaten Pekalongan dan Ngaji Kitab at-Tibyan

Semangat persatuan dan persaudaraan yang sangat terasa dipesankan K.H. Asy’ari dalam setiap lembar kitab at-Tibyan fi an-Nahyi ‘an Muqatha’atil-Arham wal-Aqarib wal-Ikhwan, terus digaungkan dan diarusutamakan oleh Nahdlatul Ulama dalam setiap fase sejarahnya. Sekedar contoh, untuk menopang stabilitas dan kemajuan kehidupan berbangsa dan bernegara Nahdlatul Ulama mengenalkan tiga konsep Ukhuwwah (Trilogi Ukhuwwah) yang untuk pertama kalinya dikenalkan oleh tokoh NU, K.H. Ahmad Shiddiq (1926-1991) menjelang Muktamar NU ke-28 di Krapyak, Yogyakarta pada tahun 1989. Tiga konsep Ukhuwah tersebut adalah (1) Ukhuwwah Islamiyyah [Persaudaraan sesama umat Islam]; (2) Ukhuwwah Wathaniyyah [Persaudaraan dalam ikatan kebangsaan]; dan [3] Ukhuwwah Basyariyyah [Persaudaraan sesama umat Islam].

Kajian kitab at-Tibyan yang dilakukan di berbagai kalangan warga Nahdlatul Ulama, baik di Pesantren, Madrasah Diniyah ataupun di majelis-majelis ta’lim tidak lain juga untuk meneruskan semangat persatuan dan persaudaran warisan K.H. Hasyim Asy’ari di tengah-masyarakat. Termasuk juga yang belum lama ini digagas oleh Pengurus Syuriah PCNU Kabupaten Pekalongan pada hari Sabtu, 09 Rabiuts-Tsani 1446 H bertepatan 12 Oktober 2024 M, dengan melakukan kajian rutin kitab at-Tibyan.

Fenomena konflik internal keluarga yang terus meningkat, permusuhan antar kelompok masyarakat yang marak, serta bergulirnya isu-isu keagamaan maupun politik utamanya melalui media sosial telah menjadikan masyarakat pada tingkat lokal maupun nasional berada pada potensi segregasi sosial; saling membatasi interaksi, saling curiga dan enggan mempererat hubungan sosial bahkan cenderung suka permusuhan dan konflik di antara mereka. Fenomena seperti ini tentunya menjadikan kegiatan pengajian rutin yang digagas oleh pengurus Syuriah PCNU Kabupaten Pekalongan mempunyai makna penting untuk mengingatkan kembali seluruh masyarakan kepada warisan luhur nilai kenabian yang dalam setiap generasi diperhatikan oleh para ulama, yaitu nilai luhur ukhuwwah dan persatuan.

Selain itu kegiatan pengajian rutin ini juga mempunyai fungsi penguatan fikrah nahdliyyah dengan kajian-kajian ilmiah berbasis kitab otoritatif bersanad khas Nahdlatul Ulama untuk menopang tataran ‘amaliyah (tradisi dan amaliah warga Nahdlatul Ulama) dan juga harakah nahdiyyah (gerakan dan agenda kelambagaan) dengan fondasi keilmuan yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, persatuan dan persaudaraan.

Wallahu A’lam

Arif Chasanul Muna

(Wakil Katib PCNU Kabupaten Pekalongan)

Views: 167

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini