Beranda Tokoh Di Bawah Langit Pesantren: Kisah Hidup K.H. Chumaidi bin K.H. Draham

Di Bawah Langit Pesantren: Kisah Hidup K.H. Chumaidi bin K.H. Draham

2178
0
K.H. Chumaidi bin K.H. Draham

Awal Kehidupan dan Latar Belakang Keluarga Kiai Haji Chumaidi

Di sebuah desa kecil yang tenang dan bersahaja di Jawa Tengah—Kalimojosari, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan—pada tahun 1935, lahirlah seorang anak laki-laki dari pasangan suami istri yang taat beragama. Beliau diberi nama Chumaidi, yang kelak dunia mengenalnya sebagai Kiai Haji Chumaidi bin Kiai Haji Draham, seorang ulama besar yang menjadi pelita di tengah masyarakat, penjaga tradisi Islam Nusantara, dan tokoh penting dalam Nahdlatul Ulama wilayah Pekalongan.

Ayahnya, K.H. Draham bin Mbah Cartam, adalah seorang ulama yang dikenal dengan karakter kuat, ketegasan, dan keteguhannya dalam mendidik. Ibunya, Nyai Markati binti Kertosari, adalah seorang ibu yang penuh kasih dan memiliki ketegaran luar biasa. Lahir dalam keluarga pesantren, Chumaidi tumbuh dalam lingkungan yang sarat dengan nilai-nilai keilmuan, akhlak, dan keislaman. Dari semua anak K.H. Draham, Chumaidi adalah sosok yang paling mencerminkan harapan luhur kedua orang tuanya.

Perjalanan Menuntut Ilmu dan Awal Kehidupan Rumah Tangga

Sejak kecil, semangat belajar telah menyala dalam dirinya. Beliau menempuh pendidikan dasar di Sekolah Rakyat Bligorejo, lalu melanjutkan ke sekolah di Doro yang lebih jauh letaknya. Namun, jarak tak pernah menyurutkan semangatnya. Ketekunan dan cintanya terhadap ilmu menjadikannya anak muda yang haus akan pengetahuan. Atas dorongan orang tua, beliau kemudian menempuh jalur pendidikan pesantren, menjelajahi berbagai daerah demi menggali ilmu agama lebih dalam.

Langkah pertamanya sebagai santri adalah di Pondok Pesantren Al-Islah Kaliwungu, di bawah asuhan K.H. Rukyat. Lima tahun beliau habiskan di sana sebagai santri khidmat—bukan hanya belajar, tetapi juga mengabdi. Setelah itu, beliau melanjutkan ke Lasem, Rembang, untuk berguru pada K.H. Masduki, lalu ke Babakan Ciwaringin, Cirebon, belajar kepada K.H. Sanusi. Di Cirebon inilah, takdir mempertemukannya dengan seorang perempuan yang kelak menjadi sahabat hidupnya: Muslichah, putri dari K.H. Bunyamin, ulama ternama dari Susukan, Cirebon.

Pernikahan mereka bukan hanya ikatan cinta dua insan, tapi juga penyatuan dua garis keturunan pesantren yang kuat dan berakar. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai sembilan anak: Azhari, Azizah, Akromah, H. Akrom, Aqimatuddiniyyah (Al-Khafidloh), Asyrofah, Achmad Izzuddin, dr. Aisyah, dan As’adillah. Anak-anak itu tumbuh dalam lingkungan penuh nilai pendidikan, cinta terhadap agama, dan keteladanan dari orang tua yang sepenuhnya mengabdi kepada umat.

Ujian Hidup, Pelarian, dan Pengabdian

Namun, hidup K.H. Chumaidi tidak selamanya berjalan tenang. Di masa mudanya, beliau pernah diculik oleh tentara PKI karena secara tidak sengaja mengibarkan bendera Masyumi—sebuah tindakan yang kala itu dianggap subversif. Beliau ditawan selama 40 hari, mengalami kekerasan fisik dan spiritual, dilarang mengaji bahkan dilarang shalat. Dipindah-pindahkan dari Tegal hingga Jakarta, beliau tak pernah kehilangan semangat untuk bertahan.

Di tengah penderitaan itu, suara ayahnya terus menggema dalam hatinya:

“Nek kowe jagoanku, balio urip dadi jagoku.”

(“Jika kamu jagoanku, pulanglah hidup-hidup sebagai jagoanku.”)

Ucapan itu menjadi obor dalam gelap. Saat rombongan tentara berhenti di wilayah Batang, beliau melihat celah untuk melarikan diri. Dengan keberanian dan keberuntungan, beliau berhasil lolos dan kembali ke Kalimojosari—hidup sebagai “jagoan” sang ayah.

Sekembalinya, K.H. Chumaidi mulai mengabdikan seluruh hidupnya kepada masyarakat. Beliau aktif dalam kegiatan keagamaan dan organisasi, bahkan dipercaya sebagai Ketua Dewan Syuro pertama Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Pekalongan. Kepakarannya dalam Ushul Fiqih membuatnya dihormati dan dijadikan rujukan oleh banyak kiai serta tokoh masyarakat. Beliau tak hanya mengajar, tetapi juga membimbing, menginspirasi, dan merawat ruhul jihad dalam kehidupan beragama masyarakat.

Mendirikan Warisan, Mengukir Keabadian

Tahun 1978 menjadi tahun penting dalam hidupnya. Di tanah kelahirannya, beliau mendirikan Pondok Pesantren Al-Islah Kalimojosari. Pesantren itu menjadi pusat dakwah, pendidikan, dan pembinaan umat. Tak berhenti di situ, pada tahun 1985 beliau juga mendirikan Madrasah Tsanawiyah Syarif Hidayatullah Doro, yang hingga kini tetap eksis mencetak generasi muda yang cinta ilmu dan agama.

Semua itu dibangun tanpa pamrih—murni karena cinta kepada Allah dan pengabdian kepada umat. Beliau hidup dengan penuh kesederhanaan. Tak pernah meninggi karena pujian, tak pernah mundur karena kesulitan. Salah satu karomah yang dikenal dari dirinya adalah kemampuannya menyembuhkan orang kesurupan atau mengalami gangguan jiwa—sebuah keistimewaan yang beliau sandang dengan rendah hati, bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk dimanfaatkan demi menolong.

Hingga akhir hayat, beliau tetap menjadi pribadi yang tawadhu’, mengajarkan bahwa hidup bukan soal banyaknya harta atau tingginya jabatan, melainkan soal seberapa besar pengabdian kita pada kebaikan. Pada hari Jumat, 13 Mei 2005, dalam usia 77 tahun, K.H. Chumaidi berpulang ke Rahmatullah. Beliau wafat di pesantren yang ia bangun dengan cinta dan perjuangan, dan dimakamkan tak jauh dari sana, di Desa Kalimojosari—di antara para santri dan masyarakat yang mencintainya.

Kini, meskipun raganya telah tiada, namun warisannya tetap hidup. Pesantren dan madrasah yang beliau bangun masih berdiri teguh. Nilai-nilai yang beliau tanam masih tumbuh subur dalam jiwa anak-anak dan murid-muridnya. Kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh putranya, K.H. Akrom Chumaidi, Lc., yang dengan penuh dedikasi meneruskan perjuangan dan visi luhur ayahandanya.

K.H. Chumaidi bukan hanya tokoh agama. Beliau adalah mercusuar keikhlasan, simbol perjuangan tanpa pamrih, dan bukti nyata bahwa seorang manusia bisa menjadi besar bukan karena jabatan atau kekuasaan, tetapi karena ilmu, keteladanan, dan cinta yang tak bersyarat kepada umat dan Tuhan.

Penulis: Rizal Bilhakiki

Editor: Mohammad Syaifuddin

Views: 634

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini